
News Sorendiweri – Wakil Bupati Kabupaten Jayawijaya mengajak masyarakat untuk kembali menghidupkan budaya menanam pangan lokal sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan dan menjaga warisan leluhur.
Ajakan tersebut disampaikan dalam kegiatan bersama masyarakat yang menyoroti pentingnya pemanfaatan lahan pekarangan serta kebun tradisional untuk menanam komoditas khas daerah seperti ubi, keladi, sayuran lokal, dan tanaman pangan lainnya.

Kembalikan Semangat Bertani Tradisional
Wabup menegaskan bahwa budaya menanam merupakan bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat pegunungan Papua. Selain sebagai sumber pangan, aktivitas berkebun juga memiliki nilai sosial dan budaya yang kuat.
“Menanam bukan hanya soal memenuhi kebutuhan makan, tetapi juga menjaga jati diri dan kearifan lokal,” ujarnya.
Menurutnya, ketergantungan terhadap pasokan pangan dari luar daerah perlu dikurangi dengan mengoptimalkan potensi lahan yang tersedia.

Baca juga: Bandara Perintis Papua Siap Beroperasi Lagi
Perkuat Ketahanan Pangan Keluarga
Langkah menghidupkan kembali pangan lokal dinilai strategis dalam memperkuat ketahanan pangan keluarga, terutama di tengah tantangan distribusi dan fluktuasi harga bahan pokok.
Pemerintah daerah mendorong warga memanfaatkan lahan kosong di sekitar rumah untuk ditanami tanaman pangan yang mudah tumbuh dan bernilai gizi tinggi. Program ini juga diharapkan dapat menekan pengeluaran rumah tangga sekaligus meningkatkan kualitas konsumsi masyarakat.
Dukungan Pemerintah Daerah
Pemkab Jayawijaya berkomitmen memberikan dukungan berupa pendampingan, penyediaan bibit unggul, serta pelatihan teknik budidaya yang lebih baik. Sinergi dengan dinas terkait dan kelompok tani terus diperkuat agar gerakan menanam ini berjalan berkelanjutan.
Selain itu, pemerintah juga mendorong pengembangan pasar lokal untuk menampung hasil panen warga sehingga memiliki nilai ekonomi tambahan.
Warisan untuk Generasi Muda
Wabup Jayawijaya menekankan pentingnya melibatkan generasi muda dalam gerakan ini. Ia berharap anak-anak dan remaja dapat kembali mengenal serta mencintai pangan lokal sebagai bagian dari budaya mereka.
Dengan menghidupkan kembali tradisi menanam, masyarakat Jayawijaya diharapkan mampu mandiri secara pangan sekaligus menjaga kelestarian budaya dan lingkungan untuk masa depan.










