NEWS Sorendiweri — Kampung Abar di Distrik Ebungfauw, Kabupaten Jayapura, kini makin dikenal sebagai destinasi wisata edukatif dan budaya berkat kelas gerabah yang digagas oleh mahasiswa Universitas Cenderawasih (Uncen) bersama perajin lokal dari Sanggar Titian Hidup. Program ini bukan hanya sekadar pelatihan, tetapi juga menjadi ajang promosi wisata unggulan yang mengangkat kearifan lokal Papua ke panggung lebih luas.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3094057/original/078807100_1586020298-gerabah_kampung_abar_sentani_hari_Suroto.jpeg)
Kampung Unik dengan Tanah Liat Khas untuk Sempe
Kepala Bidang Destinasi Wisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Jayapura, Klinton Suebu, mengapresiasi kegiatan tersebut. Menurutnya, Kampung Abar memiliki keunikan alam dan budaya yang tak dimiliki 23 kampung lainnya di sekitar Danau Sentani.
“Kampung Abar satu-satunya yang punya tanah liat khusus untuk membuat sempe—wadah tradisional untuk papeda. Ini bukan hanya bernilai ekonomi, tapi juga budaya yang harus dilestarikan,” jelas Suebu, Sabtu (5/7/2025).
Wisata Budaya dan Edukasi Lewat Kelas Gerabah
Kelas gerabah ini diikuti oleh 8 mahasiswa Uncen penerima Beasiswa Bakti BCA 2025 yang telah belajar selama beberapa bulan. Mereka bukan hanya dilatih teknik membuat gerabah, tetapi juga diajak untuk mengenal proses kreatif secara manual menggunakan mesin putar.
“Awalnya takut gagal, tapi makin lama belajar ternyata seru dan menantang. Saya bangga bisa ikut momen langka ini dan diajari langsung oleh perajin lokal,” ujar Maria Febriyanty Barek Bunga, mahasiswi jurusan Statistika FMIPA Uncen.
Didukung Infrastruktur dan Event Budaya
Sebagai dukungan terhadap potensi wisata Kampung Abar, Dinas Pariwisata telah membangun dermaga khusus untuk memudahkan akses wisatawan yang hanya bisa menuju kampung ini menggunakan perahu motor. Ke depannya, Pemkab Jayapura juga akan mengintegrasikan kegiatan ini dalam event budaya tahunan seperti Festival Makan Papeda, di mana sempe dan gerabah menjadi ikon lokal.
“Event-event seperti ini akan terus kami dorong untuk memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada masyarakat luas,” kata Suebu.
Pemasaran Digital: Strategi Baru Promosi Gerabah Abar
Selain membuat gerabah, masyarakat Kampung Abar juga dilatih teknik pemasaran digital melalui media sosial, termasuk pembuatan video promosi dan pembukuan usaha sederhana. Hal ini disampaikan oleh Monieka Dyah Anggraeni, penanggung jawab program.
“Sekarang zamannya digital, jadi kami ajarkan cara bikin konten pemasaran agar produk gerabah bisa dijual lebih luas. Penutupnya ya kelas gerabah ini,” jelasnya.
Baca Juga : Musrenbang RPJMD menjadi dasar pembangunan di Kota Jayapura
Menjaga Tradisi, Menggerakkan Ekonomi
Kelas gerabah ini menjadi bukti bahwa pengembangan pariwisata tidak selalu harus modern. Tetapi bisa dimulai dari penguatan budaya lokal dan edukasi kreatif. Harapannya, kegiatan seperti ini bisa menjadi contoh model pemberdayaan masyarakat berbasis budaya yang tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru.












